"Penziarahan Kapal Bosok" Wisata Religi Yang lagi Hits di BANTEN


Kapal Bosok adalah tempat wisata religi bersejarah yang lagi populer di Serang, Provinsi Banten.
Kapal Bosok itu ada dimana sih lokasinya?
          Terletak di Kampung Drangong, Kelurahan Curug Manis,Kecamatan Curug, Kota Serang, Banten.
Penulis telah menelusuri lokasi Penziarahan Ki Abdullah Anggadirepa, Minggu 23 Juli 2017  di Kampung Drangong Kelurahan Curug Manis Kecamatan Curug Kota Serang.Tidak mudah menemukan jejak yang terletak di sisi tenggara Kota Serang tersebut karena posisinya berada ditengah-tengah lahan pesawahan, dan harus menjelajahi jalanan berliku dengan kualitas infrastruktur jalan buruk, meski masuk wilayah administratif kota Serang, namun suasananya lebih tepat disebut perkampungan.
Apa yang membuat kawasan tersebut menjadi diminati wisatawan dari berbagai daerah?
        Selain karena keberadaan jejak Wali Allah Ki Angga Derpa, kompleks tersebut punya masjid berbentuk kapal yang sangat unik dan langka.
Ada tiga kapal yang tersusun dengan masjid berlantai empat bercat biru, hijau dan putih. Pada lantai paling atas terdapat lambang Burung Garuda Pancasila.
Masjid kapal unik itulah yang menarik minat wisatawan untuk mengabadikan gambar dengan berfoto selfie, lantas menggunggahnya ke berbagai media sosial terutama Instagram.
Siapa Ki Angga Derpa ?
         Beliau Adalah Wali Allah asli Curug, dikeramatkan dan diziarahi banyak pengunjung, berlokasi di kompleks masjid kapal. Ki Abdullah Anggaderpa, tidak banyak yang mengetahui sosoknya sebagai salah satu tokoh dalam perlawanan kesultanan Banten terhadap VOC.
         Seperti yg diutarakan oleh seorang Kiyai yg berada dilokasi tersebut Muhammad Nur. Darinya cerita mengenai Ki Abdullah Anggadirepa didapat.Menurutnya, Ki Abdullah Anggadirepa adalah sosok ulama sekaligus jagoan yang heroik dalam perlawanan terhadap VOC di abad-17. Ia menyebutnya sebagai pahlawan, barangkali itulah mengapa makamnya dibungkus benderamerah putih, begitu pula kibaran bendera merah putih di setiap sudut kompleks pemakamannya.
Ceritanya berawal ketika VOC memuat harta benda kesultanan Banten untuk dibawa ke Eropa, sang ulama diperintah oleh sultan Banten (tidak diketahui sultan yang mana) untuk merebut kembali harta benda dalam kapal yang tengah berada di perairan Banten tersebut. Ki Abdullah Anggadirepa kemudian, menyusul kapal di tengah lautan tersebut dan berhasil menguasainya.Tidak disebutkan apakah Ki Abdullah menyusul menggunakan sampan, kapal, atau dengan cara-cara lain, tetapi cerita berikutnya menunjukan bahwa kisah sang legenda lebih kepada soal-soal supranatural dibandingkan hal logis, misalnya tentang bagaimana kemudian kapal tersebut dibawa dari tengah lautan, menuju titik yang lokasinya kini di Kampung Drangong Kelurahan Curug Manis Kecamatan Curug Kota Serang.
"Ada dua versi yang menceritakan bagaimana kapal itu beliau pindahkan dari tengah lautan kesini," katanya.
Versi pertama menyebut bahwa sang legenda menarik kapal VOC menggunakan tasbih, sedangkan versi kedua menyebut beliau menaiki kapal, lalu mendayung menggunakan isyarat sampai ke bibir pantai utara Banten. Sampai bibir pantai dengan isyarat pula ia menaikan air laut ke daratan agar perahu dapat terapung, ia terus mendayung sampai akhirnya kapal sampai di lokasi yang kini menjadi kompleks makam keramatnya.
Sampai di lokasi tersebut harta benda diamankan untuk diserahkan kepada sultan Banten, sedangkan kapalnya dipukul menggunakan tongkat yang beliau pegang, akibat pukulan itu menyebabkan kapal laut VOC yang indah itu berkarat dan buruk rupa, karenanya mayarakat setempat menyebutnya Kapal Bosok (Kapal Buruk).
Kini, Muhammad Nur membangun monumen "Kapal Bosok" dengan tenaga para santrinya sendiri, tanpa keahlian desain arsitektur apalagi teknik sipil, mereka lakukan apa yang mereka mampu lakukan, dan mengerjakan apa yang bisa mereka kerjakan, hingga bangunan yang pekerjaannya dimulai sejak 2014 itu, tidak lama lagi akan selesai.
Ia juga mengaku sempat dikira gila oleh masyarakat setempat, karena kawasan makam Sang Ulama itu dikenal sebagai tempat yang tidak bisa dibangun. Tercatat mantan bupati Serang Bunyamin membangun kompleks makam yang dikeramatkan itu, namun bangunannya roboh. Selain itu, pihak Pangdam Siliwangi yang menilai bahwa Ki Abdullah Anggadirepa juga pernah membangun di. era 70-an, namun selalu roboh.
"Jaman (Tb Chaerul Jaman; Walikota Serang) sendiri pernah datang dan menawarkan bantuan keuangan, tetapi berdasarkan isyarah (dari Ki Abdullah Anggadirepa) kami tolak" katanya.
Sejarah kisah Ki Angga Derepa bermula ketika mendapatkan tugas dari Sultan pada zaman Kesultanan Banten.Dia dikenal sebagai tokoh yang sakti karena karomahnya yang didapatkan dari Allah. Dia diminta mengumpulkan kayu bakar untuk keperluan hajatan pernikahan putri Sultan Banten.Namun, Ki Angga Derpa justru membawa kayu besar utuh yang dibawa dengan menyeretnya menggunakan tali yang dikaitkan pundaknya.Tidak disangka-sangka, seekor harimau menempati bagian dalampohon yang berlubang. Macan itu kemudian lepas saat pesta berlangsung dan mengacaukan acara pernikahan.Sang Sultan yang marah menghukumnya, mengikat di sebuah kapal di pelabuhan setempat. Berkat karomahnya sebagai seorang wali, Ki Angga Derpa berjalan hingga menarik kapal yang terikat dengan badannya.Ia lantas beristirahat di sebuah kampung bernama Drangong, Kelurahan Curug Manis hingga akhir hayatnya. Cerita tutur mencatat, kapal sang wali itu bersemayam hingga membusuk.
Penduduk setempat kemudian menyebutnya "kapal bosok" yang diambil dari bahasa Jawa, artinya adalah kapal busuk. Itulah asal-usul kapal bosok di Serang, Banten.Makam Ki Angga Derpa sendiri berlokasi di dekat Masjid Kapal Bosok. Nama itu semakin populer dan dicari, setelah banyaknya gambar Kapal Bosok yang diunggah di berbagai media sosial seperti Instagram.Pengelola makam tidak segan untuk mengingatkan kepada pengunjung untuk berziarah ke makam dulu dan mendoakan Ki Angga Derpa, sebelum berkunjung ke masjid kapal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asal-Usul Penziarahan Kapal Bosok di Curug Kota Serang Banten